Home / Cakrawala / Ketahanan Bangsa Dimulai dari Desa: Mengapa Persatuan Lebih Penting daripada Sekadar Kekuatan Militer?

Ketahanan Bangsa Dimulai dari Desa: Mengapa Persatuan Lebih Penting daripada Sekadar Kekuatan Militer?

Di tengah meningkatnya ketidakpastian dunia, Indonesia menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan beberapa dekade lalu. Persaingan kekuatan besar di kawasan Indo-Pasifik, konflik bersenjata di berbagai belahan dunia, perang siber, disinformasi, krisis energi, gangguan rantai pasok global, hingga perubahan iklim telah mengubah wajah ancaman terhadap sebuah negara. Ancaman tidak lagi selalu datang melalui invasi militer, tetapi dapat muncul dalam bentuk tekanan ekonomi, perang informasi, manipulasi opini publik, maupun polarisasi sosial yang secara perlahan melemahkan persatuan bangsa.

Dalam situasi seperti ini, menjaga ketahanan nasional menjadi agenda strategis yang tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah, TNI, atau Polri. Ketahanan bangsa harus dibangun sebagai kesadaran kolektif yang melibatkan seluruh elemen masyarakat. Justru di sinilah desa memiliki posisi yang sangat strategis, karena desa merupakan fondasi sosial, budaya, dan ekonomi Indonesia.

Pemikiran tersebut mengemuka dalam diskusi dalam FGD Kemenkopolkam yang dihadiri Tim Media Panglima Desa. Bersamaan dengan pemaparan analisis politik terkini oleh Azhari Ardinal, Pembina Panglima Desa Nasional, yang menekankan bahwa masa depan Indonesia akan sangat ditentukan oleh kemampuan bangsa memperkuat kohesi sosial dan membangun ketahanan dari tingkat paling bawah, yaitu desa.

Menurut Azhari Ardinal, perubahan karakter ancaman global menuntut Indonesia untuk meninggalkan cara pandang lama yang memaknai keamanan hanya sebagai persoalan pertahanan militer.

“Ketahanan nasional pada abad ke-21 bukan hanya berbicara mengenai jumlah tank, kapal perang, atau pesawat tempur. Kekuatan sebuah bangsa juga ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya, tingkat pendidikan masyarakatnya, kemampuan ekonominya, serta kuatnya rasa persatuan dan kepercayaan kepada negara. Bangsa yang terpecah akan jauh lebih mudah dilemahkan dibanding bangsa yang bersatu,” ujarnya.

Belajar dari Pengalaman Bangsa Lain

Azhari Ardinal menilai bahwa setiap bangsa memiliki pengalaman yang dapat menjadi bahan pembelajaran, termasuk Iran yang selama puluhan tahun menghadapi embargo ekonomi, tekanan diplomatik, operasi intelijen, hingga ancaman militer dari berbagai kekuatan dunia.

Menurutnya, keberhasilan Iran mempertahankan eksistensi negara tidak dapat dipahami hanya dari aspek militernya, tetapi juga dari kemampuannya membangun kohesi nasional melalui sistem nilai yang diyakini oleh masyarakatnya.

“Pelajaran yang dapat kita ambil bukanlah bentuk sistem pemerintahannya, tetapi bagaimana sebuah negara mampu membangun kesadaran kolektif bahwa mempertahankan bangsa adalah tanggung jawab seluruh rakyat. Ketika masyarakat memiliki tujuan bersama, mereka akan lebih kuat menghadapi tekanan dari luar,” jelasnya.

Azhari menegaskan bahwa Indonesia tidak memiliki alasan untuk meniru model politik negara lain. Sebagai negara yang berdiri di atas Pancasila, UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika, Indonesia telah memiliki fondasi ideologi kebangsaan yang sesuai dengan karakter masyarakatnya yang majemuk.

Yang diperlukan adalah memperkuat implementasi nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar menjadikannya slogan.

Desa sebagai Garda Terdepan Ketahanan Nasional

Banyak orang masih memandang desa hanya sebagai wilayah penghasil pangan atau daerah penyangga kota. Padahal, dari perspektif ketahanan nasional, desa merupakan benteng pertama yang menentukan kuat atau lemahnya sebuah bangsa.

Lebih dari separuh wilayah Indonesia terdiri atas kawasan pedesaan yang menjadi tempat hidup jutaan petani, nelayan, pelaku UMKM, tokoh adat, tokoh agama, serta generasi muda yang akan menentukan masa depan bangsa.

Jika desa maju, masyarakatnya berpendidikan, ekonominya tumbuh, dan kehidupan sosialnya harmonis, maka Indonesia akan memiliki fondasi yang kokoh untuk menghadapi berbagai guncangan global.

Sebaliknya, apabila desa mudah terpecah oleh isu-isu provokatif, tertinggal dalam pendidikan, lemah secara ekonomi, dan kehilangan semangat gotong royong, maka ancaman terhadap ketahanan nasional akan semakin besar.

Karena itu, pembangunan desa sejatinya merupakan investasi strategis bagi masa depan Indonesia.

Ancaman Modern Tidak Selalu Terlihat

Salah satu tantangan terbesar saat ini adalah perubahan bentuk ancaman.

Jika dahulu perang identik dengan dentuman meriam dan pertempuran di medan perang, kini konflik lebih banyak berlangsung melalui ruang digital. Berita bohong, propaganda, manipulasi media sosial, pencurian data, serangan terhadap sistem informasi, hingga penyebaran kebencian dapat menciptakan perpecahan tanpa satu peluru pun ditembakkan.

Fenomena inilah yang dikenal sebagai perang hibrida (hybrid warfare), yaitu kombinasi antara tekanan politik, ekonomi, informasi, teknologi, dan keamanan yang bertujuan melemahkan negara dari dalam.

Dalam konteks tersebut, masyarakat desa tidak boleh hanya menjadi penonton. Mereka harus menjadi bagian dari solusi dengan meningkatkan literasi digital, membiasakan budaya tabayun atau verifikasi informasi, serta menjaga persaudaraan di tengah perbedaan.

Menurut Azhari Ardinal, masyarakat yang cerdas akan lebih sulit diprovokasi dibanding masyarakat yang mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi.

Pendidikan dan Literasi adalah Pertahanan Jangka Panjang

Ketahanan nasional sesungguhnya dimulai dari kualitas manusia.

Sekolah yang baik, guru yang berkualitas, keluarga yang harmonis, tokoh agama yang menyejukkan, serta masyarakat yang gemar membaca akan melahirkan generasi yang memiliki daya pikir kritis sekaligus rasa cinta tanah air yang kuat.

Karena itu, pendidikan tidak boleh dipandang hanya sebagai urusan memperoleh ijazah. Pendidikan merupakan investasi strategis untuk memperkuat daya tahan bangsa dalam menghadapi perubahan zaman.

Demikian pula dengan literasi digital. Di era media sosial, kemampuan membedakan informasi yang benar dan yang menyesatkan menjadi bagian penting dari pertahanan nasional. Masyarakat yang memiliki literasi tinggi akan mampu menjaga persatuan dan tidak mudah dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang ingin menciptakan konflik.

Ketahanan Ekonomi Berawal dari Desa

Selain pendidikan, kekuatan ekonomi masyarakat juga merupakan pilar utama ketahanan nasional.

Indonesia tidak akan menjadi negara yang tangguh apabila petani terus mengalami kesulitan memperoleh pupuk, nelayan menghadapi biaya produksi yang tinggi, atau pelaku UMKM tidak mampu bersaing di era digital.

Karena itu, pembangunan ekonomi desa harus diarahkan pada peningkatan produktivitas pertanian, penguatan koperasi, digitalisasi UMKM, hilirisasi produk desa, pengembangan kewirausahaan, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Azhari Ardinal menilai bahwa desa tidak boleh hanya menjadi objek pembangunan, tetapi harus menjadi pusat pertumbuhan ekonomi nasional.

“Jika ekonomi desa kuat, ketahanan nasional juga akan semakin kuat. Sebaliknya, jika desa tertinggal, maka bangsa ini akan menghadapi tantangan yang jauh lebih besar di masa depan,” katanya.

Indonesia di Persimpangan Kepentingan Dunia

Secara geografis, Indonesia berada di kawasan Indo-Pasifik, salah satu wilayah yang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi sekaligus arena kompetisi geopolitik global.

Jalur pelayaran internasional yang melintasi perairan Indonesia menjadikan negeri ini memiliki posisi strategis dalam perdagangan dunia, keamanan maritim, dan stabilitas kawasan.

Posisi tersebut memberikan peluang besar bagi Indonesia untuk berkembang sebagai kekuatan regional. Namun pada saat yang sama, Indonesia juga harus mampu menjaga independensi kebijakan nasional agar tidak terseret dalam rivalitas kekuatan besar.

Untuk itu, stabilitas dalam negeri menjadi modal utama. Bangsa yang bersatu akan lebih mampu menjaga kepentingan nasional dibanding bangsa yang terpecah oleh konflik internal.

Persatuan adalah Modal Terbesar Bangsa

Pada akhirnya, kekuatan Indonesia tidak hanya terletak pada luas wilayahnya, kekayaan sumber daya alamnya, atau besarnya jumlah penduduknya.

Kekuatan terbesar Indonesia adalah persatuan rakyatnya.

Gotong royong yang masih hidup di desa-desa, semangat musyawarah, toleransi antarumat beragama, penghormatan terhadap adat dan budaya lokal, serta kecintaan kepada tanah air merupakan modal sosial yang tidak dimiliki oleh banyak negara.

Modal inilah yang harus terus dipelihara dan diwariskan kepada generasi muda.

Di tengah perubahan geopolitik global yang semakin dinamis, Indonesia memerlukan masyarakat yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara moral, tangguh secara ekonomi, dan kokoh dalam semangat kebangsaan.

Sebagaimana disampaikan Azhari Ardinal, Pembina Panglima Desa Nasional, menjaga Indonesia sesungguhnya dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan setiap hari oleh masyarakat. Ketika keluarga menanamkan nilai kejujuran, guru mengajarkan cinta tanah air, tokoh agama memperkuat persaudaraan, aparat desa melayani masyarakat dengan integritas, petani menjaga ketahanan pangan, nelayan menjaga laut, dan pemuda memilih membangun desanya, maka pada saat itulah ketahanan nasional sedang dibangun.

Sebab, pada akhirnya, menjaga desa berarti menjaga Indonesia. Dan ketika desa-desa Indonesia kuat, bersatu, berdaya, serta memiliki semangat gotong royong yang kokoh, maka Indonesia akan mampu menghadapi setiap tantangan global dengan kepala tegak sebagai bangsa yang berdaulat, maju, dan bermartabat.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *