Home / Cakrawala / Ekonomi Desa / Desa Adalah Benteng Terakhir Ekonomi Indonesia

Desa Adalah Benteng Terakhir Ekonomi Indonesia

Di tengah tekanan global, pelemahan rupiah, dan meningkatnya kepanikan publik akibat gejolak ekonomi dunia, Indonesia sesungguhnya masih memiliki fondasi yang sangat kuat: desa.

Ketika Presiden Prabowo Subianto mengatakan bahwa “rakyat desa tidak pakai dollar,” banyak pihak menertawakannya seolah pernyataan itu bertentangan dengan teori ekonomi modern. Padahal pesan yang ingin disampaikan jauh lebih strategis. Yang sedang ditegaskan adalah bahwa denyut utama ekonomi Indonesia tidak semata ditentukan oleh layar pasar keuangan, tetapi oleh aktivitas ekonomi riil rakyat di desa.

Dan data membuktikan hal itu.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tetap menjadi salah satu penopang terbesar ekonomi nasional dengan kontribusi mencapai sekitar 13,83% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pada Triwulan II-2025. Bahkan pada Triwulan III-2025 kontribusinya meningkat menjadi 14,35% dari total PDB Indonesia.

Lebih dari itu, sektor pertanian menjadi sektor dengan pertumbuhan tertinggi di tengah ketidakpastian global, tumbuh hingga 13,53% pada Triwulan II-2025.

Ini menunjukkan satu fakta penting: ketika sektor-sektor yang bergantung pada arus modal global mulai goyah, ekonomi desa justru tetap bergerak.

Petani tetap menanam padi meskipun kurs dollar naik. Nelayan tetap melaut meskipun pasar global bergejolak. Peternak tetap memproduksi telur, ayam, sapi, dan kebutuhan pangan rakyat setiap hari. Karena fondasi ekonomi desa bukan spekulasi finansial, melainkan kebutuhan dasar manusia: pangan.

Sawah tidak berhenti karena Wall Street turun. Laut tidak berhenti menghasilkan ikan karena rupiah melemah. Rakyat tetap makan, dan selama kebutuhan pangan tetap ada, ekonomi desa akan terus hidup.

Inilah yang membuat ekonomi desa jauh lebih resilience dibanding banyak sektor modern yang sangat sensitif terhadap sentimen pasar internasional.

Mayoritas masyarakat desa tidak hidup dari transaksi dollar, obligasi luar negeri, atau pasar derivatif. Mereka hidup dari ekonomi domestik berbasis rupiah. Aktivitas mereka bertumpu pada tanah, hasil panen, pasar tradisional, dan jaringan sosial komunitas. Bahkan dalam beberapa kasus, pelemahan rupiah justru membuat komoditas pertanian dan perikanan Indonesia lebih kompetitif untuk ekspor.

Sejarah Indonesia juga membuktikan bahwa desa selalu menjadi penyelamat bangsa di saat krisis.

Pada krisis moneter 1998, ketika perusahaan-perusahaan besar runtuh dan jutaan pekerja kota kehilangan pekerjaan, desa menjadi ruang bertahan hidup nasional. Banyak masyarakat kembali ke desa untuk bertani, berkebun, dan membangun ekonomi informal berbasis komunitas.

Hal serupa kembali terlihat saat pandemi COVID-19. Ketika pusat-pusat ekonomi perkotaan lumpuh akibat pembatasan sosial dan terganggunya rantai pasok global, sektor pertanian tetap berjalan menjaga pasokan pangan nasional. Desa menjaga Indonesia tetap makan ketika dunia sedang berhenti.

Karena itu, bahaya terbesar saat ini sebenarnya bukan hanya pelemahan rupiah, tetapi kepanikan publik yang diproduksi tanpa perspektif.

Dalam ekonomi modern, kepercayaan adalah fondasi utama. Ketika masyarakat panik, mereka mulai menahan konsumsi, memborong barang, menarik simpanan, hingga kehilangan rasa percaya terhadap negaranya sendiri. Kepanikan psikologis seperti ini justru dapat mempercepat perlambatan ekonomi.

Padahal data menunjukkan ekonomi domestik Indonesia masih bergerak. Pada 2025 ekonomi nasional masih tumbuh sekitar 5,12%, sementara konsumsi rumah tangga tetap menjadi kontributor terbesar ekonomi nasional dengan kontribusi lebih dari 53% terhadap PDB.

Artinya, kekuatan ekonomi Indonesia tetap berada pada rakyatnya sendiri—terutama ekonomi domestik dan desa.

Di sinilah pentingnya ketenangan seorang pemimpin. Menenangkan rakyat bukan berarti menutupi masalah, tetapi menjaga psikologi nasional agar tidak runtuh oleh gelombang ketakutan yang berlebihan.

Sebab sejarah telah menunjukkan satu hal penting: setiap kali dunia mengalami badai ekonomi, desa selalu menjadi benteng terakhir Indonesia.

Petani, nelayan, peternak, pasar desa, dan ekonomi rakyat kecil mungkin tidak tampil di layar bursa saham dunia. Namun merekalah fondasi yang membuat Indonesia tetap berdiri saat dunia sedang goyah.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *