Pernyataan Kepala BPI Kemendes PDT Mulyadin Malik dan Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto dalam dua forum berbeda sesungguhnya menunjukkan satu arah strategis yang sama: negara mulai menyadari bahwa masa depan Indonesia tidak bisa dibangun hanya dari kota, infrastruktur fisik, atau pertumbuhan ekonomi semata. Masa depan Indonesia akan sangat ditentukan oleh bagaimana desa mempertahankan identitas budayanya sekaligus meningkatkan kapasitas literasi masyarakatnya.
Di tengah derasnya modernisasi dan digitalisasi, desa menghadapi tekanan besar. Transformasi ekonomi sering datang bersama homogenisasi budaya. Desa dipaksa mengikuti logika pembangunan kota. Akibatnya, banyak identitas lokal mulai terkikis. Tradisi berubah menjadi formalitas wisata. Gotong royong melemah karena ekonomi semakin individualistik. Bahkan cara berpikir masyarakat desa perlahan diarahkan oleh perspektif luar yang belum tentu memahami realitas sosial desa itu sendiri.
Karena itu, pernyataan bahwa pembangunan desa harus tetap berbasis identitas budaya bukan sekadar retorika administratif. Ini adalah sinyal penting bahwa negara mulai membaca ancaman strategis terhadap struktur sosial desa Indonesia.
Desa Bukan Miniatur Kota
Kesalahan terbesar dalam pembangunan desa selama beberapa dekade adalah menjadikan kota sebagai model utama kemajuan. Desa dianggap maju jika menyerupai kota. Padahal, desa memiliki struktur sosial yang berbeda.
Desa hidup dari relasi sosial, budaya kolektif, dan solidaritas komunitas. Sementara kota bergerak dengan logika kompetisi individual dan ekonomi pasar. Ketika pola pembangunan kota dipaksakan ke desa, maka yang terjadi bukan transformasi, melainkan disrupsi sosial.
Pernyataan Mulyadin Malik tentang lagu “Menanam Jagung” sangat simbolik. Kritik itu bukan soal lagu semata, tetapi tentang siapa yang mendefinisikan desa. Selama ini, desa sering diceritakan oleh orang luar. Narasi pembangunan dibuat dari perspektif birokrasi kota, bukan dari pengalaman hidup masyarakat desa sendiri.
Akibatnya, banyak kebijakan gagal memahami kebutuhan riil masyarakat desa. Program dibangun secara administratif, tetapi tidak tumbuh secara sosial. Infrastruktur berdiri, namun karakter desa melemah.
Di sinilah pentingnya pembangunan berbasis identitas budaya. Desa harus berkembang tanpa kehilangan dirinya sendiri.
Politik Pembangunan Desa Sedang Berubah
Pernyataan Kemendes PDT juga menunjukkan perubahan paradigma politik pembangunan nasional. Jika sebelumnya desa hanya dilihat sebagai objek bantuan, kini desa mulai diposisikan sebagai pusat transformasi nasional.
Kalimat “Bangun desa, bangun Indonesia” bukan slogan kosong. Secara geopolitik domestik, desa memang menjadi fondasi stabilitas nasional. Mayoritas persoalan Indonesia sebenarnya berakar dari desa:
- Kemiskinan struktural
- Ketimpangan ekonomi
- Migrasi tenaga kerja
- Ketahanan pangan
- Pendidikan dasar
- Rendahnya literasi
- Lemahnya industrialisasi lokal
Artinya, jika desa kuat, maka fondasi nasional juga akan kuat.
Karena itu, pembangunan desa hari ini tidak lagi cukup hanya membangun jalan dan gedung. Negara mulai bergerak ke arah pembangunan kapasitas manusia dan penguatan karakter sosial masyarakat.
Dan di titik inilah isu literasi menjadi sangat penting.
Literasi Bukan Lagi Soal Membaca Buku
Pernyataan Bima Arya Sugiarto tentang indeks literasi menunjukkan bahwa pemerintah mulai melihat literasi sebagai instrumen pembangunan strategis, bukan sekadar program pendidikan.
Literasi hari ini memiliki makna yang jauh lebih luas:
- Literasi digital
- Literasi ekonomi
- Literasi budaya
- Literasi informasi
- Literasi politik
- Literasi teknologi
Masyarakat yang rendah literasi akan mudah terjebak hoaks, manipulasi informasi, dan ketergantungan ekonomi. Sebaliknya, masyarakat yang memiliki literasi tinggi akan lebih adaptif terhadap perubahan.
Karena itu, perpustakaan modern tidak lagi hanya menjadi tempat penyimpanan buku. Ia berubah menjadi pusat aktivasi sosial.
Transformasi perpustakaan di Bogor yang disebut Bima Arya menjadi contoh menarik. Ketika ruang literasi dibuat nyaman, interaktif, dan relevan dengan generasi muda, maka masyarakat datang dengan sendirinya.
Ini menunjukkan bahwa masalah literasi bukan semata soal minat baca. Masalah utamanya sering berada pada desain ekosistemnya.
Desa dan Literasi Harus Menjadi Satu Ekosistem
Yang menarik, dua isu ini sebenarnya saling terhubung sangat kuat: identitas budaya desa dan literasi masyarakat.
Mengapa?
Karena desa yang kehilangan literasi akan kehilangan kemampuan mempertahankan identitasnya sendiri. Sementara desa yang kehilangan identitas budaya akan kehilangan arah dalam membangun literasinya.
Di era digital, masyarakat desa menghadapi banjir informasi luar. Jika tidak memiliki kapasitas literasi yang kuat, desa hanya menjadi konsumen budaya global tanpa kemampuan menyaring nilai.
Akibatnya:
- Budaya lokal melemah
- Generasi muda kehilangan akar sosial
- Tradisi hanya menjadi simbol seremonial
- Desa kehilangan narasi ekonominya sendiri
Karena itu, penguatan literasi berbasis desa dan komunitas menjadi sangat strategis.
Literasi desa tidak boleh hanya berisi buku akademik. Literasi desa harus hidup dari realitas masyarakatnya:
- Pengetahuan pertanian lokal
- Sejarah adat
- Kearifan lingkungan
- Ekonomi desa
- Teknologi praktis
- Koperasi dan kewirausahaan
- Ketahanan pangan
- Digitalisasi UMKM desa
Dengan begitu, literasi menjadi alat pemberdayaan nyata.
Perpustakaan Desa Bisa Menjadi Pusat Peradaban Baru
Selama ini, perpustakaan desa sering dianggap pelengkap administratif. Padahal, jika dikelola serius, perpustakaan desa dapat menjadi pusat transformasi sosial paling penting.
Bayangkan jika perpustakaan desa tidak hanya berisi rak buku, tetapi juga:
- Ruang diskusi pemuda
- Inkubator UMKM desa
- Studio digital kreatif
- Pelatihan AI dan teknologi
- Kelas pertanian modern
- Arsip budaya lokal
- Pusat data desa
- Laboratorium inovasi masyarakat
Maka perpustakaan tidak lagi menjadi ruang sunyi, tetapi pusat kehidupan intelektual desa.
Di sinilah sebenarnya arah besar yang mulai terlihat dari pernyataan pemerintah: pembangunan desa masa depan bukan hanya pembangunan fisik, tetapi pembangunan kapasitas berpikir masyarakat.
Pertarungan Masa Depan Desa Ada pada Narasi
Hari ini, desa menghadapi pertarungan yang tidak terlihat: pertarungan narasi.
Siapa yang mendefinisikan desa?
Siapa yang menentukan arah modernisasi?
Siapa yang mengontrol informasi?
Siapa yang membentuk cara berpikir generasi muda desa?
Jika desa hanya menjadi pasar bagi budaya luar, maka desa perlahan kehilangan identitas strategisnya.
Namun jika desa mampu membangun literasi berbasis budaya lokal, maka desa tidak hanya bertahan. Desa bisa menjadi pusat lahirnya model pembangunan Indonesia yang lebih manusiawi.
Karena itu, pembangunan berbasis identitas budaya dan penguatan literasi sebenarnya adalah dua sisi dari strategi besar yang sama: menjaga kedaulatan sosial bangsa dari akar rumput.
Masa Depan Indonesia Akan Ditentukan dari Desa
Pernyataan Kemendes PDT dan Kemendagri memperlihatkan satu hal penting: negara mulai memahami bahwa pembangunan tidak cukup hanya mengejar pertumbuhan ekonomi.
Indonesia membutuhkan desa yang:
- kuat secara ekonomi,
- cerdas secara literasi,
- dan kokoh secara budaya.
Sebab desa bukan sekadar wilayah administratif. Desa adalah ruang peradaban Indonesia.
Jika desa kehilangan identitasnya, maka Indonesia kehilangan akarnya.
Namun jika desa mampu mempertahankan budaya sambil meningkatkan kapasitas literasinya, maka desa akan menjadi fondasi kebangkitan nasional di era modern.
Dan mungkin, di situlah arah baru pembangunan Indonesia sedang mulai dibentuk.










