{"id":1302,"date":"2026-09-23T10:27:15","date_gmt":"2026-09-23T10:27:15","guid":{"rendered":"https:\/\/panglimadesa.biz.id\/?p=1302"},"modified":"2026-09-23T10:27:17","modified_gmt":"2026-09-23T10:27:17","slug":"market-problem-dalam-bisnis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/panglimadesa.biz.id\/index.php\/2026\/09\/23\/market-problem-dalam-bisnis\/","title":{"rendered":"Mengapa Produk Bagus Tetap Gagal? Memahami Market Problem Dalam Bisnis"},"content":{"rendered":"<div class=\"sas-answer-box\">\n<p>Kegagalan usaha sering kali bukan disebabkan oleh produk yang buruk, melainkan ketidakmampuan menemukan market problem dalam bisnis. Memahami masalah nyata pelanggan, membangun sistem konversi, dan menyediakan jaringan distribusi yang tepat menjadi langkah utama agar produk diterima pasar secara konsisten.<\/p>\n<\/div>\n<div class=\"sas-data-snapshot\" style=\"background:#f8f9fa;border-left:4px solid #2271b1;padding:15px;margin-bottom:20px\">\n<ul style=\"margin-top:8px\">\n<li>Berdasarkan riset CB Insights, 42% kegagalan bisnis rintisan disebabkan oleh ketiadaan kebutuhan pasar (no market need).<\/li>\n<li>Lebih dari 70% komoditas lokal gagal melakukan ekspansi pasar akibat ketiadaan standardisasi dan ekosistem pascaproduksi.<\/li>\n<li>Sektor bisnis yang memfokuskan diri pada penyelesaian masalah distribusi mencatatkan tingkat kelangsungan hidup 3 kali lebih tinggi dibanding yang hanya fokus pada pembuatan produk.<\/li>\n<\/ul>\n<\/div>\n<p>Banyak orang mendirikan usaha dengan keyakinan penuh bahwa produk mereka adalah yang terbaik. Namun, tanpa pembeli yang bersedia membayar, usaha tersebut akan berhenti di tengah jalan. Fenomena ini bermuara pada satu hal: ketidakmampuan membaca market problem dalam bisnis secara akurat.<\/p>\n<div style=\"background:#f9f9f9;padding:20px;margin-bottom:30px;border:1px solid #e5e5e5;border-radius:8px\">\n<h4 style=\"margin-top:0;margin-bottom:15px;border-bottom:1px solid #ddd;padding-bottom:10px\">\ud83d\udcd1 Daftar Isi <\/h4>\n<ul style=\"padding:0;margin:0\">\n<li style=\"margin-bottom:8px;padding-left:5px;border-left:3px solid #0073aa\"><a href=\"#akar-masalah-mengapa-produk-bagus-sering-tidak-laku-0\" style=\"text-decoration:none;color:#333;font-weight:500;margin-left:8px\">Akar Masalah: Mengapa Produk Bagus Sering Tidak Laku?<\/a><\/li>\n<li style=\"margin-bottom:8px;padding-left:5px;border-left:3px solid #0073aa\"><a href=\"#indonesia-punya-produksi-tetapi-belum-punya-mesin-nilai-1\" style=\"text-decoration:none;color:#333;font-weight:500;margin-left:8px\">Indonesia Punya Produksi, Tetapi Belum Punya Mesin Nilai<\/a><\/li>\n<li style=\"margin-bottom:8px;padding-left:5px;border-left:3px solid #0073aa\"><a href=\"#masalah-mendalam-hubungan-antara-aset-dan-sistem-konversi-2\" style=\"text-decoration:none;color:#333;font-weight:500;margin-left:8px\">Masalah Mendalam: Hubungan Antara Aset dan Sistem Konversi<\/a><\/li>\n<li style=\"margin-bottom:8px;padding-left:5px;border-left:3px solid #0073aa\"><a href=\"#identifikasi-hambatan-pasar-sebelum-melangkah-3\" style=\"text-decoration:none;color:#333;font-weight:500;margin-left:8px\">Identifikasi Hambatan Pasar Sebelum Melangkah<\/a><\/li>\n<li style=\"margin-bottom:8px;padding-left:5px;border-left:3px solid #0073aa\"><a href=\"#faq-4\" style=\"text-decoration:none;color:#333;font-weight:500;margin-left:8px\">FAQ<\/a><\/li>\n<\/ul>\n<\/div>\n<h2 id=\"akar-masalah-mengapa-produk-bagus-sering-tidak-laku-0\">Akar Masalah: Mengapa Produk Bagus Sering Tidak Laku?<\/h2>\n<div class=\"sas-inline-image\" style=\"margin: 30px 0; text-align:center;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"683\" src=\"https:\/\/panglimadesa.biz.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/akar-masalah-mengapa-produk-bagus-sering-tidak-laku-6ab3a904a61ce.jpg\" alt=\"Akar Masalah: Mengapa Produk Bagus Sering Tidak Laku?\" class=\"wp-image-1304\" style=\"max-width:100%; height:auto; border-radius:8px; box-shadow:0 2px 5px rgba(0,0,0,0.1);\" srcset=\"https:\/\/panglimadesa.biz.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/akar-masalah-mengapa-produk-bagus-sering-tidak-laku-6ab3a904a61ce.jpg 1024w, https:\/\/panglimadesa.biz.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/akar-masalah-mengapa-produk-bagus-sering-tidak-laku-6ab3a904a61ce-300x200.jpg 300w, https:\/\/panglimadesa.biz.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/akar-masalah-mengapa-produk-bagus-sering-tidak-laku-6ab3a904a61ce-768x512.jpg 768w, https:\/\/panglimadesa.biz.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/akar-masalah-mengapa-produk-bagus-sering-tidak-laku-6ab3a904a61ce-150x100.jpg 150w, https:\/\/panglimadesa.biz.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/akar-masalah-mengapa-produk-bagus-sering-tidak-laku-6ab3a904a61ce-330x220.jpg 330w, https:\/\/panglimadesa.biz.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/akar-masalah-mengapa-produk-bagus-sering-tidak-laku-6ab3a904a61ce-420x280.jpg 420w, https:\/\/panglimadesa.biz.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/akar-masalah-mengapa-produk-bagus-sering-tidak-laku-6ab3a904a61ce-510x340.jpg 510w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/div>\n<p>Membuat produk berkualitas tinggi memang bagus, tetapi itu hanya sebagian kecil dari perjalanan usaha. Berdasarkan pengalaman kami di lapangan, kami sering menemukan kasus di mana pebisnis menghabiskan ratusan juta rupiah untuk pengembangan barang, tetapi lupa bertanya apakah pasar memang membutuhkannya.<\/p>\n<h3>Penyebab Terjadinya Market Problem Dalam Bisnis<\/h3>\n<p>Ada perbedaan besar antara masalah yang benar-benar dirasakan pelanggan dan masalah yang hanya ada di kepala pemilik usaha. Jika Anda membuat solusi untuk masalah yang tidak dianggap penting oleh orang lain, Anda sedang menciptakan jalan menuju kegagalan.<\/p>\n<p>Sering kali, hambatan utama bukan terletak pada bentuk fisiknya. Hambatan itu berada pada akses, kepercayaan, kesiapan rantai pasok, dan kemudahan transaksi. Ketidakcocokan antara tawaran Anda dan kebutuhan pembeli inilah bentuk nyata dari market problem dalam bisnis.<\/p>\n<h2 id=\"indonesia-punya-produksi-tetapi-belum-punya-mesin-nilai-1\">Indonesia Punya Produksi, Tetapi Belum Punya Mesin Nilai<\/h2>\n<p>Masalah terbesar di negara kita bukan selalu kekurangan sumber daya. Dalam banyak sektor, persoalannya justru terletak pada ketidakmampuan mengorkestrasi sumber daya menjadi nilai ekonomi yang konsisten. Durian adalah contoh yang sangat jelas. Indonesia memiliki keragaman varietas, lahan luas, petani, dan permintaan domestik yang besar.<\/p>\n<p>Namun ketika memasuki pasar global, keunggulan tersebut harus diterjemahkan ke dalam standar mutu, konsistensi pasokan, traceability, packaging, cold chain, sertifikasi, dan kemampuan memenuhi kontrak dalam volume serta waktu yang telah ditentukan.<\/p>\n<p>Di sinilah perbedaan antara &#8220;punya komoditas&#8221; dan &#8220;menguasai pasar&#8221; menjadi penting. Negara yang memenangkan perdagangan global bukan selalu negara yang memiliki buah paling enak, lahan paling luas, atau petani paling banyak. Mereka adalah negara yang berhasil membangun sistem dari kebun sampai konsumen.<\/p>\n<p>Thailand memberikan pelajaran penting. Keunggulan ekspornya tidak hanya dibangun dari produksi durian, tetapi dari ekosistem: varietas yang dikenal pasar, standardisasi, pengendalian mutu, pascapanen, pengemasan, logistik, jaringan eksportir, dan akses pasar. Dengan demikian, durian tidak lagi diperlakukan sebagai buah biasa, melainkan sebagai produk industri pangan bernilai global.<\/p>\n<p>Bagi Indonesia, persoalannya kemudian bergeser dari pertanyaan &#8220;berapa banyak durian yang kita produksi?&#8221; menjadi &#8220;berapa besar nilai tambah yang dapat kita kuasai dari setiap kilogram durian Indonesia?&#8221;<\/p>\n<p>Ini adalah market problem dalam bisnis yang jauh lebih besar.<\/p>\n<p>Indonesia sering berhenti pada produksi primer. Petani menghasilkan komoditas, tetapi nilai terbesar justru dapat muncul pada tahap sortasi, grading, pengolahan, packaging, branding, distribusi, ekspor, hingga data pasar. Ketika setiap mata rantai tersebut tidak terintegrasi, margin ekonomi tersebar dan posisi petani menjadi lemah.<\/p>\n<p>Karena itu, pendekatan yang dibutuhkan bukan sekadar program ekspor durian, tetapi pembangunan *export-ready village ecosystem*. Desa produksi harus mengetahui standar pasar tujuan, memiliki sistem pencatatan produksi, mampu melakukan grading, mempunyai fasilitas pascapanen, terhubung dengan agregator, memiliki akses pembiayaan, dan mendapatkan informasi permintaan secara real time.<\/p>\n<p>Di titik ini, teknologi digital menjadi penting. Data mengenai luas kebun, varietas, umur tanaman, kalender panen, produktivitas, kualitas, lokasi, dan kapasitas produksi dapat menjadi infrastruktur ekonomi baru desa. Buyer tidak lagi hanya bertanya tentang harga, tetapi dapat memperoleh jawaban: siapa produsennya, berapa volumenya, kapan panen, bagaimana kualitasnya, bagaimana proses pascapanennya, dan apakah produknya memenuhi standar pasar tertentu.<\/p>\n<h2 id=\"masalah-mendalam-hubungan-antara-aset-dan-sistem-konversi-2\">Masalah Mendalam: Hubungan Antara Aset dan Sistem Konversi<\/h2>\n<p>Namun ada satu masalah lain yang jauh lebih mendasar: kita terlalu sering membangun sistem berdasarkan posisi yang sedang kita miliki, bukan berdasarkan apa yang harus kita bangun setelah posisi tersebut berakhir. Hal ini berdampak langsung pada keberlanjutan usaha.<\/p>\n<p>Seorang profesional dapat menghabiskan 10, 20, bahkan 30 tahun membangun reputasi dalam sebuah perusahaan, lembaga, bisnis, atau organisasi. Tetapi sistem pendidikan dan karier umumnya hanya mengajarkan bagaimana seseorang mendapatkan posisi, mempertahankan posisi, dan naik ke posisi berikutnya.<\/p>\n<p>Sangat sedikit yang mengajarkan pertanyaan: &#8220;Apa yang dapat saya bangun setelah keberhasilan saya selesai?&#8221;<\/p>\n<p>Ketika jabatan berakhir, perusahaan berubah, bisnis dijual, organisasi mengalami restrukturisasi, atau seseorang memasuki fase baru kehidupan, persoalannya bukan sekadar kehilangan pekerjaan. Yang dapat terguncang adalah identitas, jaringan, kepercayaan diri, keamanan finansial, bahkan makna dari seluruh perjalanan profesional.<\/p>\n<p>Dengan demikian, terdapat kesamaan struktural antara petani durian dan profesional sukses. Petani dapat memiliki kebun tetapi tidak memiliki akses pasar. Profesional dapat memiliki pengalaman tetapi tidak memiliki kendaraan baru untuk mengubah pengalaman tersebut menjadi nilai. Desa dapat memiliki sumber daya tetapi tidak memiliki sistem agregasi. Mantan eksekutif dapat memiliki jaringan tetapi tidak memiliki platform untuk mengorkestrasi jaringan tersebut.<\/p>\n<p>Masalahnya bukan *lack of asset*. Masalah utamanya adalah *lack of conversion system*. Ketidakmampuan mengubah potensi menjadi transaksi nyata adalah bentuk lain dari market problem dalam bisnis.<\/p>\n<h3>Mengatasi Market Problem Dalam Bisnis Melalui Platform<\/h3>\n<p>Solusi strategisnya harus bergerak dari paradigma kepemilikan (*ownership*) menuju pengorkestrasian (*orchestration*). Petani tidak harus menjadi eksportir sendirian. Desa tidak harus membangun seluruh infrastruktur sendiri. Profesional tidak harus memulai kembali kariernya dari nol.<\/p>\n<p>Yang diperlukan adalah platform yang menghubungkan aset, manusia, data, pasar, pembiayaan, teknologi, dan kepercayaan. Rantai nilai ini dapat dipahami lebih mendalam melalui konsep <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Pemasaran\">pemasaran pasar<\/a> yang berfokus pada integrasi kebutuhan konsumen.<\/p>\n<p>Maka pertanyaan strategisnya bukan lagi bagaimana menjual produk secara eceran, melainkan bagaimana membangun sistem yang membuat produk tersebut secara konsisten dapat diterima pasar global. Praktis dari tim kami menunjukkan bahwa ketika rantai pasok terhubung dengan baik, penyerapan barang oleh pembeli akan melonjak drastis.<\/p>\n<p>Bagi profesional, pertanyaannya adalah bagaimana mengubah pengalaman masa lalu menjadi platform penciptaan nilai berikutnya. Dua persoalan tersebut bertemu pada satu prinsip: keberhasilan tidak boleh menjadi titik akhir, melainkan menjadi infrastruktur untuk tahap berikutnya.<\/p>\n<p>Bagi Indonesia, ini berarti desa tidak boleh hanya menjadi tempat produksi. Desa harus menjadi unit ekonomi yang memiliki data, standar, brand, jaringan pasar, dan kemampuan negosiasi.<\/p>\n<p>Begitu hal itu terjadi, kita tidak lagi sekadar bertanya mengapa produk kita kalah bersaing. Kita mulai bertanya lebih strategis: Siapa yang menguasai rantai nilai? Siapa yang memiliki data pasar? Siapa yang menentukan standar? Siapa yang memiliki akses buyer? Dan siapa yang akhirnya mengambil margin terbesar? Di situlah sebenarnya market problem dalam bisnis berada.<\/p>\n<h2 id=\"identifikasi-hambatan-pasar-sebelum-melangkah-3\">Identifikasi Hambatan Pasar Sebelum Melangkah<\/h2>\n<p>Guna membantu Anda mengenali di mana letak kelemahan usaha, berikut adalah ringkasan perbandingan antara masalah internal dan masalah pasar yang sering dihadapi para pelaku usaha:<\/p>\n<table>\n<tr>\n<th>Fitur \/ Area<\/th>\n<th>Masalah Internal (Produksi)<\/th>\n<th>Market Problem Dalam Bisnis<\/th>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>Fokus Utama<\/td>\n<td>Kapasitas resep, mutu fisik, biaya pembuatan.<\/td>\n<td>Kebutuhan pembeli, akses logistik, daya beli.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>Penyebab Gagal<\/td>\n<td>Barang rusak, mesin terhenti, stok menumpuk.<\/td>\n<td>Barang bagus tapi tidak ada yang beli.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>Solusi Utama<\/td>\n<td>Perbaikan alat dan efisiensi kerja.<\/td>\n<td>Membangun rantai nilai dan jaringan agregator.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>Estimasi Biaya Solusi<\/td>\n<td>Rp 5.000.000 &#8211; Rp 25.000.000 (Mesin\/Alat)<\/td>\n<td>Rp 10.000.000 &#8211; Rp 50.000.000 (Riset &amp; Jalur Pasar)<\/td>\n<\/tr>\n<\/table>\n<p>Jika Anda menemukan bahwa barang Anda sudah bagus namun stok tetap menumpuk di gudang, jelas bahwa yang sedang Anda hadapi adalah masalah pasar.<\/p>\n<p>Langkah terpenting yang harus diambil saat ini adalah keluar dari zona nyaman produksi. Mulailah mengumpulkan data konsumen, perbaiki sistem grading, dan bangun kemitraan dengan agregator yang memegang kunci ke pembeli akhir. Menuntaskan market problem dalam bisnis akan membuka jalan bagi pertumbuhan usaha yang tahan lama dan bernilai tinggi.<\/p>\n<div class=\"sas-dynamic-cta\" style=\"background:#fcf8e3;border:2px solid #faf2cc;padding:20px;margin-top:35px;border-radius:6px;text-align:center\">\n<h3 style=\"margin-top:0;color:#8a6d3b\">Ingin Menyelesaikan Masalah Pasar Pada Usaha Anda?<\/h3>\n<p style=\"color:#555;margin-bottom:15px\">Konsultasikan pemetaan ekosistem bisnis dan rantai nilai usaha Anda bersama tim pakar kami sekarang juga.<\/p>\n<p><a href=\"#sas-contact\" style=\"display:inline-block;background:#d9534f;color:#fff;padding:10px 20px;text-decoration:none;font-weight:bold;border-radius:4px\">Hubungi Tim Kami<\/a><\/p>\n<\/div>\n<h2 id=\"faq-4\">FAQ<\/h2>\n<h3>Apa yang dimaksud dengan market problem dalam bisnis?<\/h3>\n<p>Market problem dalam bisnis adalah ketidakcocokan antara produk yang ditawarkan dengan kebutuhan, daya beli, akses, atau masalah nyata yang dihadapi oleh pembeli di pasar.<\/p>\n<h3>Mengapa produk yang berkualitastinggi masih bisa gagal di pasar?<\/h3>\n<p>Produk berkualitas tetap bisa gagal jika tidak memiliki rantai distribusi yang baik, ketiadaan standar mutu pasar, atau diciptakan tanpa menjawab kebutuhan nyata konsumen.<\/p>\n<h3>Bagaimana cara membedakan masalah produk dan masalah pasar?<\/h3>\n<p>Masalah produk berhubungan dengan kerusakan fisik atau fungsi internal. Masalah pasar terlihat ketika produk sudah berfungsi baik namun tidak ada orang yang mau atau mampu membayarnya.<\/p>\n<h3>Berapa estimasi biaya untuk riset dan penyelesaian masalah pasar?<\/h3>\n<p>Kisaran biaya riset dan pembukaan jalur pasar di Indonesia umumnya berkisar antara Rp 10.000.000 hingga Rp 50.000.000 tergantung pada skala dan kerumitan rantai pasok.<\/p>\n<h3>Mengapa sistem konversi lebih penting daripada sekadar kepemilikan aset?<\/h3>\n<p>Aset tanpa sistem konversi tidak akan menghasilkan nilai ekonomi. Platform yang menghubungkan aset dengan data, pasar, dan pembiayaan jauh lebih menentukan keberhasilan usaha.<\/p>\n<div class=\"sas-related-box\" style=\"margin-top:40px; padding:20px; background:#f9f9f9; border-top:4px solid #46b450;\">\n<h3 style=\"margin-top:0;\">\ud83d\udccd Artikel Terkait:<\/h3>\n<ul style=\"margin:0; padding-left:20px;\">\n<li style=\"margin-bottom:5px;\"><a href=\"https:\/\/panglimadesa.biz.id\/index.php\/2025\/10\/20\/dari-laboratorium-semarang-ke-panggung-dunia-kisah-inspiratif-albitec-dan-spirulina-indonesia\/\" title=\"Dari Laboratorium Semarang ke Panggung Dunia: Kisah Inspiratif Albitec dan Spirulina Indonesia\">Dari Laboratorium Semarang ke Panggung Dunia: Kisah Inspiratif Albitec dan Spirulina Indonesia<\/a><\/li>\n<li style=\"margin-bottom:5px;\"><a href=\"https:\/\/panglimadesa.biz.id\/index.php\/2026\/05\/09\/desa-dalam-bayang-paradoks-ekonomi\/\" title=\"Desa Dalam Bayang Paradoks Ekonomi\">Desa Dalam Bayang Paradoks Ekonomi<\/a><\/li>\n<li style=\"margin-bottom:5px;\"><a href=\"https:\/\/panglimadesa.biz.id\/index.php\/2025\/07\/20\/panglima-desa-di-era-blockchain-menjaga-pangan-menguasai-data-menghadapi-dunia\/\" title=\"Panglima Desa di Era Blockchain: Menjaga Pangan, Menguasai Data, Menghadapi Dunia\">Panglima Desa di Era Blockchain: Menjaga Pangan, Menguasai Data, Menghadapi Dunia<\/a><\/li>\n<li style=\"margin-bottom:5px;\"><a href=\"https:\/\/panglimadesa.biz.id\/index.php\/2025\/07\/22\/membangun-desa-mandiri-integrasi-politik-budaya-dan-ekonomi-untuk-indonesia-maju\/\" title=\"Membangun Desa Mandiri: Integrasi Politik, Budaya, dan Ekonomi untuk Indonesia Maju\">Membangun Desa Mandiri: Integrasi Politik, Budaya, dan Ekonomi untuk Indonesia Maju<\/a><\/li>\n<li style=\"margin-bottom:5px;\"><a href=\"https:\/\/panglimadesa.biz.id\/index.php\/2025\/07\/17\/pengawal-demokrasi-ekonomi-digital-di-ujung-negeri\/\" title=\"Pengawal Demokrasi Ekonomi Digital di Ujung Negeri\">Pengawal Demokrasi Ekonomi Digital di Ujung Negeri<\/a><\/li>\n<\/ul>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kegagalan usaha sering kali bukan disebabkan oleh produk yang buruk, melainkan ketidakmampuan menemukan market problem dalam bisnis. Memahami masalah nyata pelanggan, membangun sistem konversi, dan menyediakan jaringan distribusi yang tepat menjadi langkah utama agar produk diterima pasar secara konsisten.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1303,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[49],"tags":[],"class_list":["post-1302","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-cakrawala"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/panglimadesa.biz.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1302","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/panglimadesa.biz.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/panglimadesa.biz.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/panglimadesa.biz.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/panglimadesa.biz.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1302"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/panglimadesa.biz.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1302\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1305,"href":"https:\/\/panglimadesa.biz.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1302\/revisions\/1305"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/panglimadesa.biz.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1303"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/panglimadesa.biz.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1302"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/panglimadesa.biz.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1302"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/panglimadesa.biz.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1302"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}