Di sebuah desa yang dulu hanya dikenal sebagai penghasil gabah musiman, perubahan besar dimulai dari satu pertanyaan sederhana: mengapa petani selalu menjadi pihak terakhir yang menikmati hasil panen? Harga ditentukan tengkulak, pupuk mahal, anak-anak muda enggan melanjutkan tradisi bertani. Desa berjalan, tetapi tidak bertumbuh. Dari realitas seperti inilah TANHANA FOUNDATION memperkenalkan model transformasi bernama PANGLIMA DESA—sebuah pendekatan yang membangun kekuatan dari akar: pangan, usaha lokal, dan desa cerdas berbasis digital serta pariwisata terpadu.
Model ini tidak datang membawa proyek sesaat. Ia membawa perubahan cara berpikir. Desa tidak lagi diposisikan sebagai objek pembangunan, melainkan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi, inovasi sosial, dan penjaga identitas budaya.
Pangan Berdaulat: Dari Sawah ke Meja Makan Sendiri
Di tahun pertama pendampingan, fokusnya sederhana namun mendasar: ketahanan pangan. Melalui Institut Politik Pertanian Desa, para petani tidak hanya diajarkan teknik tanam modern, tetapi juga memahami kebijakan pangan, rantai distribusi, hingga strategi stabilisasi harga. Sekolah Tani Modern mulai berjalan. Petani muda belajar menggunakan sensor tanah sederhana, memanfaatkan aplikasi cuaca, dan menerapkan pola tanam terjadwal.
Lumbung pangan desa diaktifkan kembali, bukan sekadar gudang beras, tetapi sistem cadangan kolektif yang menjaga stabilitas saat harga anjlok atau musim paceklik datang. Bank benih lokal dibentuk untuk mengurangi ketergantungan pada benih impor. Pekarangan rumah yang dulu kosong kini ditanami cabai, sayur, dan tanaman herbal.
Hasilnya terasa konkret. Ketika harga beras nasional sempat bergejolak, desa tetap stabil. Warga tidak panik karena stok tersedia. Petani memiliki posisi tawar lebih kuat karena tidak lagi menjual dalam kondisi terdesak. Ketahanan pangan berubah menjadi kedaulatan ekonomi.
UMKM Berdaya: Produk Desa Naik Kelas
Namun desa tidak bisa hanya bertahan; ia harus tumbuh. Di sinilah program PANEN – Pemasaran Ekonomi Nusantara bekerja. Alih-alih setiap pelaku usaha berjalan sendiri-sendiri, TANHANA membangun ekosistem pemasaran kolektif.
Contohnya, beras lokal yang sebelumnya dijual tanpa merek kini dikemas dengan identitas desa, lengkap dengan cerita asal-usul dan metode tanam ramah lingkungan. Rempah-rempah dan herbal yang dulu dijual kiloan kini diproses menjadi produk siap konsumsi dengan standar kualitas terkurasi. Ibu-ibu pengolah singkong belajar membuat varian camilan sehat dengan desain kemasan modern.
Melalui marketplace desa dan pelatihan e-commerce, produk-produk ini tidak hanya dijual di pasar kecamatan, tetapi masuk ke jaringan reseller lintas kota. Bahkan beberapa komoditas organik mulai dilirik pasar ekspor skala kecil. Pendapatan meningkat bukan karena bantuan tunai, tetapi karena nilai tambah. UMKM tidak lagi sekadar usaha rumahan. Ia menjadi penggerak ekonomi kolektif. Rantai distribusi lebih adil. Produsen mendapatkan bagian keuntungan yang layak.
Desa Tanhana: Digital dan Wisata Terpadu
Transformasi tidak berhenti di pangan dan UMKM. Pilar ketiga, Desa Tanhana, membawa desa memasuki fase baru: smart village dan wisata terpadu. Administrasi desa mulai terdigitalisasi. Warga dapat mengurus surat secara daring tanpa harus menunggu berjam-jam. Anggaran desa dipublikasikan secara transparan melalui dashboard sederhana. Partisipasi warga meningkat karena informasi terbuka.
Di sisi ekonomi, internet desa dimanfaatkan untuk promosi wisata dan produk lokal. Sebuah kebun hortikultura dikembangkan menjadi agrowisata. Pengunjung kota datang untuk merasakan pengalaman panen langsung. Festival kuliner lokal digelar setiap musim tertentu, menampilkan beras premium, olahan rempah, dan kerajinan tangan.
Rumah-rumah warga disiapkan sebagai homestay sederhana. Anak-anak muda menjadi pemandu wisata, fotografer konten digital, dan pengelola media sosial desa. Desa tidak kehilangan identitasnya; justru identitas itulah yang menjadi daya tarik utama. Pendapatan baru muncul. Lapangan kerja tercipta. Pemuda yang dulu ingin pindah ke kota mulai melihat masa depan di kampung halaman sendiri.
Integrasi Tiga Pilar: Fondasi yang Saling Menguatkan
Kekuatan model PANGLIMA DESA terletak pada integrasinya. Pangan berdaulat menciptakan stabilitas dasar. UMKM berdaya menggerakkan pertumbuhan ekonomi. Desa Tanhana menghubungkan semuanya dengan teknologi dan wisata berkelanjutan.
Bayangkan sebuah siklus yang saling menguatkan: hasil pertanian menjadi produk olahan bernilai tinggi; produk itu dipasarkan melalui platform digital; wisatawan datang melihat prosesnya; mereka membeli langsung dari produsen; keuntungan kembali ke petani dan pelaku usaha lokal. Ekonomi berputar di dalam desa sebelum mengalir keluar.
Dalam lima tahun, targetnya jelas: desa menjadi model Smart and Sustainable Village yang bisa direplikasi di berbagai wilayah. Tahun pertama membangun fondasi pangan dan digitalisasi dasar. Tahun kedua dan ketiga memperkuat branding serta wisata. Tahun keempat memperluas pasar. Tahun kelima, desa berdiri sebagai pusat pertumbuhan kawasan.
Dari Pinggiran Menjadi Pusat
Apa yang dilakukan TANHANA FOUNDATION melalui PANGLIMA DESA pada dasarnya adalah mengembalikan peran strategis desa dalam pembangunan nasional. Ketika desa kuat, ketahanan nasional ikut kokoh. Ketika pangan stabil, ekonomi rakyat bergerak. Ketika UMKM naik kelas, lapangan kerja tercipta. Ketika digitalisasi berjalan, transparansi dan efisiensi meningkat. Ketika wisata berbasis budaya berkembang, identitas tetap terjaga.
Desa tidak lagi identik dengan ketertinggalan. Ia menjadi ruang masa depan—mandiri, digital, dan mendunia. Transformasi ini bukan mimpi utopis. Ia dimulai dari sawah, dari dapur UMKM, dari balai desa yang kini terhubung internet, dari anak muda yang memilih bertahan dan berinovasi. Dari akar yang kuat, peradaban dibangun. Dan di sanalah TANHANA FOUNDATION menempatkan dirinya: bukan sekadar membantu desa, tetapi membangun fondasi agar desa mampu berdiri dengan kekuatannya sendiri.









