Dunia mungkin tidak menyadari bahwa setiap label halal pada produk makanan di rak supermarket—baik di London, New York, maupun Jakarta—memuat jejak pemikiran seorang ilmuwan perempuan dari Ranah Minang. Prof. Dr. Aisjah Girindra bukan sekadar akademisi; ia adalah arsitek sistem perlindungan konsumen Muslim global yang mengubah standar industri pangan dunia. Dari laboratorium hingga meja makan keluarga Muslim, warisannya hidup sebagai jaminan ketenangan batin dan kepastian syariah yang berbasis sains.
Lahir di Bukittinggi pada 7 Oktober 1935, Aisjah Girindra menembus batas zamannya. Di tengah dunia akademik yang didominasi laki-laki, ia mengukir sejarah sebagai perempuan pertama yang meraih gelar doktor dari Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor pada 1973 dalam bidang Biokimia Pertanian. Ia tidak hanya menorehkan prestasi pribadi, tetapi juga merintis Program Studi Biokimia dan Bioteknologi yang kini menjadi fondasi pengembangan ilmu hayati modern di Indonesia.
Pengaruh globalnya mulai terasa ketika ia memimpin LPPOM MUI pada awal 1990-an. Di tangannya, sertifikasi halal bertransformasi dari sekadar simbol administratif menjadi sistem audit ilmiah yang ketat. Ia melibatkan biokimiawan, dokter hewan, dan teknolog pangan untuk memastikan integritas proses produksi. Pendekatan multidisipliner ini menjadikan standar halal Indonesia diakui sebagai salah satu yang paling kredibel dan disegani di dunia.
Visinya melampaui batas negara. Pada 1999, ia memprakarsai pendirian World Halal Food Council dan menjadi presiden pertamanya. Melalui lembaga ini, berbagai otoritas sertifikasi halal internasional dipersatukan dalam standar audit yang harmonis. Penetapan Jakarta sebagai pusat dewan halal dunia menjadi simbol kepemimpinan Indonesia dalam tata kelola halal global—sebuah capaian strategis yang tidak hanya religius, tetapi juga ekonomi dan geopolitik.
Warisan Aisjah Girindra tidak berhenti pada sistem. Ia mewariskan paradigma: bahwa sains dan syariat bukan dua dunia yang terpisah, melainkan fondasi bersama bagi keamanan pangan dan kepercayaan konsumen global. Dalam era perdagangan bebas dan rantai pasok lintas negara, standar halal berbasis sains telah menjadi instrumen penting perlindungan konsumen sekaligus pintu masuk ekonomi bagi negara-negara berpenduduk Muslim.
Semangat tersebut kini diteruskan generasi baru dari tanah Minang. Dr. Hastri Ninawir, Direktur Eksekutif Bersama Halal Madani (BHM), mengembangkan program sertifikasi halal berbasis masyarakat yang menekankan kompetensi profesi Juru Sembelih Halal (Juleha). Program ini tidak sekadar pelatihan teknis; ia membangun ekosistem kehalalan dari hulu ke hilir. Sertifikat Juleha yang dihasilkan dapat digunakan untuk advokasi dan sertifikasi kompetensi melalui BNSP, sekaligus mendukung pengurusan sertifikat halal rumah potong dan industri pemotongan unggas.
Inisiatif ini lahir dari kebutuhan nyata: minimnya tenaga juru sembelih halal bersertifikasi yang menjadi garda terdepan dalam memastikan kehalalan pangan. Tanpa kompetensi profesi yang terstandar, kepercayaan konsumen rentan tergerus. Karena itu, pelatihan berbasis kompetensi yang dikembangkan BHM menjadi instrumen strategis dalam menjaga integritas rantai pangan halal sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Meski menghadapi keterbatasan dukungan institusional, BHM berhasil menyelenggarakan pelatihan Juleha di Sumatera Barat melalui kolaborasi dengan sektor swasta, termasuk dukungan CSR perusahaan agribisnis nasional. Model kemitraan ini menunjukkan bahwa penguatan ekosistem halal dapat tumbuh dari sinergi masyarakat, dunia usaha, dan lembaga profesi. Selain fokus pada penyembelihan halal, BHM juga aktif mendorong sertifikasi halal bagi UMKM kuliner dan sektor perhotelan, memperluas cakupan ekonomi halal sebagai motor pertumbuhan daerah.
Upaya ini menyoroti tantangan yang masih dihadapi Indonesia: kurangnya sosialisasi dan implementasi sistem sertifikasi halal secara menyeluruh. Padahal, dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki peluang strategis untuk menjadi pusat industri halal global. Dukungan pemerintah daerah, sinergi lintas sektor, dan penguatan lembaga lokal menjadi kunci untuk mengubah potensi menjadi kekuatan ekonomi nyata.
Dari Prof. Aisjah Girindra hingga generasi penerusnya, kisah ini adalah narasi tentang visi, integritas, dan keberanian menembus batas. Halal bukan sekadar label; ia adalah sistem kepercayaan, standar mutu, dan instrumen kedaulatan ekonomi. Dari Bukittinggi untuk dunia, warisan ini mengajarkan bahwa ilmu pengetahuan yang berpadu dengan nilai spiritual mampu membentuk peradaban yang lebih adil, aman, dan berkeadaban.
Indonesia tidak hanya menjadi konsumen standar global—Indonesia adalah penciptanya. Dan perjuangan itu masih berlanjut.









