Di tengah gemuruh geopolitik global di mana negara-negara besar mengerahkan teknologi nuklir untuk senjata dan deterensi, Indonesia mengambil jalan yang sama sekali berbeda. Sementara percakapan internasional didominasi oleh “uploading” hulu ledak, perlombaan senjata strategis, dan ancaman mutually assured destruction, Indonesia secara konsisten memfokuskan rekayasa nuklirnya untuk tujuan yang membangun: mencapai kedaulatan pangan dan memakmurkan desa. Ini bukan sekadar perbedaan teknis, melainkan perbedaan filosofis mendasar tentang untuk apa kemajuan ilmu pengetahuan seharusnya digunakan.
Pilihan Indonesia berakar pada visi bahwa teknologi, betapapun canggihnya, harus menjadi alat untuk memajukan kesejahteraan manusia, bukan alat pemusnahannya. Pendekatan ini mewujudkan semangat kemandirian dan berdaulat secara teknologi. Dengan memanfaatkan energi atom untuk inovasi pertanian dan pembangunan pedesaan, Indonesia tidak hanya menciptakan solusi praktis untuk tantangan domestiknya, tetapi juga membangun “soft power” dan narasi alternatif di panggung global. Narasi ini menawarkan contoh nyata bahwa nuklir bisa menjadi mesin penggerak pembangunan berkelanjutan, bukan hanya simbol ancaman.
Secara konkret, Indonesia telah mengembangkan kapabilitas rekayasa nuklir sipil selama puluhan tahun melalui Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Fokusnya adalah pada aplikasi yang langsung menyentuh hajat hidup orang banyak. Teknik iradiasi sinar gamma digunakan untuk menciptakan varietas tanaman pangan unggul—seperti padi, kedelai, dan kacang tanah—yang lebih tahan terhadap kekeringan, hama, dan memiliki umur panen lebih pendek. Teknik nuklir juga digunakan untuk mengoptimalkan pemupukan, mengelola sumber daya air, dan memperpanjang umur simpan hasil pertanian tanpa bahan kimia berbahaya. Teknologi ini bukan wacana di laboratorium, tetapi telah diujicobakan dan diimplementasikan di berbagai daerah, membantu petani meningkatkan produktivitas dan ketahanan.
Dampak strategis dari pendekatan ini bersifat multidimensi. Di tingkat ekonomi, kemandirian dalam menciptakan benih unggul mengurangi ketergantungan impor dan menghemat devisa. Di tingkat sosial, teknologi ini memberdayakan komunitas pedesaan, mengurangi kemiskinan, dan menciptakan nilai tambah dari produk lokal. Di tataran politik dan global, Indonesia membangun kredibilitas sebagai negara yang memanfaatkan teknologi tinggi untuk tujuan damai dan kemanusiaan, memperkuat posisi moralnya dalam diplomasi nonproliferasi internasional. Ketika negara-negara adikuasa saling bersitegang, Indonesia menunjukkan bahwa ada jalan lain: jalan yang memanfaatkan potensi atom untuk membangun kehidupan, bukan mengancamnya.
Tentu, jalan ini tidak tanpa tantangan. Kapasitas infrastruktur dan sumber daya manusia masih perlu ditingkatkan, regulasi perlu diperkuat, dan penerimaan publik harus terus dibangun melalui edukasi dan transparansi. Namun, komitmen untuk menjadikan nuklir sebagai motor pembangunan desa dan ketahanan pangan adalah pilihan strategis yang visioner. Dalam jangka panjang, ini bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan pangan nasional, tetapi tentang mendefinisikan ulang peradaban teknologi: sebuah peradaban di which kemajuan sains diabdikan sepenuhnya untuk kemakmuran, kedamaian, dan keberlanjutan kehidupan di bumi.










