Home / Cakrawala / Sosial Desa / Ketika Desa Bangkit Bersama: Harapan dari Sumatera yang Terluka

Ketika Desa Bangkit Bersama: Harapan dari Sumatera yang Terluka

Banjir bandang dan tanah longsor yang menimpa Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat meninggalkan luka berat. Ratusan jiwa berpulang, banyak keluarga masih mencari orang yang mereka sayangi, dan desa demi desa berubah dari ruang hidup yang tenang menjadi puing dan lumpur. Namun di balik duka itu, ada satu hal yang tidak ikut runtuh, yaitu kekuatan warga desa untuk saling menolong.

Di banyak tempat, sebelum bantuan besar tiba, warga desa sudah bergerak. Mereka membuka jalan yang tertutup material longsor, mengevakuasi tetangga lanjut usia, dan mendirikan dapur darurat di balai desa. Tidak ada yang menunggu komando. Semua berjalan karena rasa kemanusiaan yang tumbuh dari kebiasaan hidup dekat satu sama lain.

Di sebuah desa di Sumatra Utara, para pemuda mengambil perahu kecil milik nelayan dan bergerak menyelamatkan warga yang terjebak banjir. Mereka menjemput satu per satu, tanpa peduli malam atau hujan. Sementara itu, para ibu memasak beras yang tersisa untuk dibagi kepada siapa pun yang datang ke posko desa. Mereka bilang, “Kalau kita tidak berbagi sekarang, kapan lagi.”

Di Sumatra Barat, ketika jembatan desa terputus, warga setempat yang dikoordinir oleh kepanduan Sumatera Barat mencari jalur alternatif ke bukit agar logistik tetap bisa masuk. Mereka tidak menyerah pada keadaan. Mereka memilih untuk melindungi satu sama lain, meski semuanya sedang dalam kesulitan yang sama.

Aceh pun menunjukkan keteguhan yang membuat banyak orang belajar arti ketabahan. Di tengah longsor yang memutus banyak akses, warga membuka jalur dengan alat seadanya sambil terus mencari korban hilang. Para relawan desa berjalan kaki berjam jam untuk mengantar obat dan makanan ke dusun terpencil. Mereka tidak mengenal lelah karena mereka tahu ada nyawa yang menunggu uluran tangan.

Kisah kisah ini menunjukkan bahwa desa bukan hanya ruang geografis, tetapi ruang hati. Tempat di mana solidaritas tumbuh kuat, bahkan lebih kuat daripada bencana itu sendiri. Ketika alam menguji, desa berdiri sebagai bukti bahwa harapan bisa terbit dari mana saja, termasuk dari tenda sederhana yang berdiri di pinggir sungai atau dari rumah yang tinggal separuh dindingnya.

Bencana ini membawa pesan penting bagi kita semua. Pemulihan bukan sekadar membangun kembali jembatan dan rumah, tetapi juga memastikan desa memiliki ruang hidup yang aman dan sehat. Ekosistem perlu dipulihkan. Tata ruang perlu diperbaiki. Alam perlu dihormati agar desa desa di Sumatera tidak lagi menjadi korban dari keputusan yang mengabaikan keseimbangannya.

Namun hari ini, sebelum bicara soal pembangunan jangka panjang, kita mengakui lebih dulu ketegasan hati warga desa yang menjadi garis pertama penyelamat. Mereka membuktikan bahwa meski air bah merobohkan rumah, ia tidak bisa merobohkan rasa kebersamaan.

Sumatera sedang terluka, tetapi dari desa desa yang saling menguatkan, kita melihat sesuatu yang tidak pernah hanyut. Harapan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *