Perubahan besar dalam perdagangan global selalu menggeser pusat kekuatan dunia. Dari saat Portugis membuka rute laut yang menyingkirkan peran Timur Tengah, sampai era industri modern yang membentuk dominasi Atlantik, setiap perubahan rute, teknologi, dan standar selalu menciptakan pemenang baru dan menyingkirkan pemain lama. Hari ini, pola itu terulang lagi. Bedanya, pergeseran kekuatan kini tidak hanya bergantung pada kapal dan pelabuhan, tetapi juga digitalisasi, keamanan rantai pasok, dan strategi industri berbasis wilayah.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok, fragmentasi aturan global, dan tekanan untuk merapikan kembali rantai pasok membuat perusahaan mencari lokasi produksi yang lebih dekat, lebih aman, dan lebih stabil. Inilah konteks munculnya nearshoring, strategi memindahkan operasi ke negara tetangga demi efisiensi logistik, kesamaan zona waktu, dan pengurangan risiko geopolitik.
Di dunia yang semakin terpecah, keputusan lokasi produksi tidak lagi sekadar tentang biaya murah. Dekat lebih penting. Stabil lebih berharga. Dan kemampuan menyesuaikan diri dengan standar global semakin menentukan.
Indonesia dan Gelombang Nearshoring Baru
Perubahan ini membuka peluang besar bagi Indonesia. Jepang, Korea Selatan, Singapura, Australia, dan Malaysia sudah mulai memindahkan sebagian aktivitas produksi, distribusi, dan layanan teknisnya ke wilayah Indonesia. Motifnya jelas:
- mengurangi ketergantungan pada Tiongkok,
- mencari lokasi yang aman secara politik,
- mengandalkan tenaga kerja kompetitif,
- memotong waktu logistik untuk pasar Asia Tenggara.
Contohnya bervariasi: produksi elektronik Jepang yang dialihkan ke Indonesia, pusat distribusi Singapura yang pindah ke Batam, tim engineering Australia yang ditempatkan di Jakarta, sampai manufaktur komponen otomotif Korea yang bergeser ke Jawa Barat. Semua ini mencerminkan satu hal: Indonesia kini masuk radar sebagai pusat nearshoring regional.
Dan di sinilah desa punya peran strategis.
Mengapa Desa Masuk Hitungan?
Perubahan geopolitik selalu punya dampak nyata di level lokal. Dulu, munculnya rute laut Portugis menjatuhkan kota-kota dagang tertentu dan mengangkat wilayah baru. Hari ini, nearshoring membuka peluang serupa bagi desa-desa di Indonesia.
Desa bukan lagi sekadar lokasi pertanian atau komunitas tradisional. Dalam konteks rantai pasok modern, desa bisa menjadi:
- lokasi pabrik komponen,
- pusat logistik tingkat awal,
- penyedia tenaga kerja terlatih,
- kawasan pendukung industri,
- simpul produksi untuk pasar domestik dan ekspor.
Jika perubahan global mengalihkan produksi ke Indonesia, maka pertumbuhan industri tidak akan berhenti di kota besar. Ia akan bergerak ke pinggiran, kawasan industri desa, dan klaster-klaster ekonomi kecil yang selama ini tidak terlihat.
Peluang untuk Desa
- Lapangan kerja baru.
Perusahaan yang melakukan nearshoring membutuhkan tenaga kerja untuk produksi, assembly, quality control, dan logistik. Desa menjadi sumber tenaga yang stabil. - Peningkatan infrastruktur.
Jalan, listrik, air, internet, dan logistik akan mengikuti industri. Desa yang selama ini tertinggal bisa mendapatkan percepatan pembangunan. - Transformasi digital.
Nearshoring tidak hanya soal pabrik. Ada pusat data, layanan pelanggan, dan operasi digital yang butuh lokasi operasional. Ini membuka peluang kerja berbasis keterampilan digital di desa. - Kemunculan usaha kecil pendukung industri.
Dari katering sampai transportasi lokal, dari bengkel hingga jasa perawatan mesin, desa berpotensi memunculkan ekosistem ekonomi baru. - Peluang bagi BUMDes.
BUMDes bisa ikut bermain dalam penyediaan lahan, fasilitas logistik, atau layanan jasa yang dibutuhkan investor nearshoring.
Tantangan yang Perlu Diakui Sejak Awal
Tidak semua desa siap menyambut arus perubahan. Ada risiko:
- kapasitas SDM yang belum seragam,
- kesenjangan infrastruktur antarwilayah,
- tata ruang desa yang belum siap untuk industri,
- potensi ketegangan dalam pemanfaatan lahan.
Jika desa tidak dipersiapkan, gelombang nearshoring bisa lewat begitu saja tanpa dampak berarti.
Jalan ke Depan: Desa sebagai Pemain dalam Rantai Pasok Global
Dunia sedang membentuk ulang rute perdagangan dan rantai pasok, seperti saat Portugis mengubah sejarah dunia. Kali ini, Indonesia berpeluang besar menjadi salah satu pusat baru. Dan desa, jika diposisikan dengan benar, bisa ikut menikmati masa depan itu.
Arah yang paling realistis untuk desa antara lain:
- menyusun rencana tata ruang berbasis peluang industri,
- memperkuat pendidikan vokasi di tingkat lokal,
- mempercepat digitalisasi layanan desa,
- memperkuat BUMDes sebagai platform investasi lokal,
- membangun kemitraan dengan kawasan industri terdekat.
Perubahan global yang terjadi hari ini bukan sekadar berita geopolitik. Ia adalah kesempatan. Dan kalau desa berani menyiapkan diri, nearshoring bukan hanya cerita perusahaan multinasional, tetapi titik balik ekonomi lokal.










