Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir sawah, para petani duduk melingkar setelah seharian membajak. Tangan mereka masih kotor oleh tanah, cangkul tersandar di dinding bambu. Kopi hitam mengepul di cangkir-cangkir retak. TV kecil di pojok warung menyala, menayangkan berita tentang konferensi keamanan di negeri jauh bernama Jerman.
“Munich itu di mana, Pak?” tanya seorang pemuda sambil mengisap rokok kretek.
“Entahlah, Nak. Yang jelas jauh. Mungkin sejauh negeri orang-orang putih dulu yang jajah kita,” jawab pak tua berpeci lusuh.
Pembicaraan kemudian beralih ke harga gabah yang turun, pupuk yang langka, dan irigasi yang mampet. Tapi diam-diam, mata mereka tertumbuk pada gambar gedung-gedung mewah di Munich, para pemimpin dunia berdasi, dan tentara-tentara berseragam rapi.
Di desa, dunia terasa begitu dekat dan begitu jauh sekaligus.
Jurang yang Juga Terasa di Sawah
Konferensi Keamanan Munich ke-62 baru saja usai. Para pemimpin dunia bicara tentang “jurang pemisah yang dalam” antara Eropa dan Amerika. Kanselir Jerman Friedrich Merz berdiri di podium, mengakui bahwa sekutu lama tak lagi bisa diandalkan. Bahkan, ia sampai membahas kemungkinan Eropa memiliki senjata nuklir sendiri.
Di warung kopi, seorang petani menggaruk kepala. “Nuklir? Itu yang bisa meledak besar kayak bom Hiroshima itu, tho?”
“Iya, Pak. Tapi ini di Eropa, jauh.”
“Lha wong negara sendiri urusan pupuk karo benih wae mumet, kok ngurusin nuklir Eropa,” sahut yang lain, tertawa pahit.
Tapi di balik tawa itu, ada kegelisahan yang tak terucap. Petani desa mungkin tak paham geopolitik, tapi mereka paham betul arti ketidakpastian. Ketika harga pupuk naik tanpa alasan jelas, ketika minyak goreng menghilang dari pasar, ketika beras impor membanjiri desa—mereka tahu bahwa keputusan di negeri seberang selalu berakhir di sawah mereka.
Dari Gaza ke Meja Makan
Gambar berikutnya di TV memperlihatkan reruntuhan di Gaza. Ribuan anak tewas. Rumah sakit hancur. Seorang perempuan menangis di depan puing rumahnya. Di seluruh dunia, orang turun ke jalan membela Palestina. Di ibu kota, ribuan mahasiswa berdemo. Tagar #FreePalestine membanjiri media sosial.
Di desa, seorang ibu menghela napas panjang. Ia mematikan TV dan beranjak ke dapur. “Wis, nonton berita kok malah tambah mumet. Ayam gepreknya sudah mateng, tho?”
“Sebentar, Bu. Ini lagi heboh Palestina,” kata anaknya yang baru pulang kuliah dari kota.
“Palestina… Palestina… Lha wong anakmu butuh biaya sekolah, butuh beras, butuh lauk. Palestina jauh, Nak. Dekat sini aja, tetangga sebelah rumah lagi kelaparan karena panen gagal. Kau bantu belum?”
Anak itu terdiam.
Di desa, solidaritas diukur dengan piring nasi yang dibagi ke tetangga, bukan dengan spanduk dan poster. Bukan karena mereka tak peduli, tapi karena hidup sehari-hari sudah cukup berat untuk dipikirkan. Ketika perut keroncongan, sulit untuk marah tentang ketidakadilan di negeri seberang.
Tapi jangan salah. Ketika bulan Ramadan tiba, mereka menyisihkan beras untuk dikirim ke masjid, lalu dikumpulkan untuk Palestina. Ketika kotak amal diedarkan, mereka menyumbang, meski hanya recehan. Caranya mungkin sederhana, tapi hatinya tulus.
TV dan Realitas yang Terbelah
Di desa, televisi adalah jendela dunia. Tapi jendela itu sering berkabut. Berita tentang perang di Ukraina, konflik di Gaza, dan krisis di Eropa masuk bergantian dengan sinetron dan iklan pupuk subsidi.
Para petani mendengar bahwa Amerika dan Eropa bertengkar. Mereka dengar soal tarif dagang, sanksi ekonomi, dan perang dingin baru. Mereka juga dengar bahwa Indonesia “bebas aktif”, tidak memihak blok mana pun.
Tapi di sawah, yang terasa adalah harga pupuk yang terus meroket karena perang di Ukraina mengganggu pasokan gas. Yang terasa adalah harga minyak goreng yang melambung karena konflik global. Yang terasa adalah ketidakpastian.
“Jadi, perang di negeri orang itu bikin pupuk mahal, tho?” tanya seorang petani setengah bingung.
“Iya, Pak. Karena gas alam dari Rusia macet, pabrik pupuk di Eropa tutup. Kita impor pupuk, ikut kena imbas.”
“Lha wong Rusia perang sama Ukraina, kok pupuk di sini ikut-ikutan mahal? Dasar setan!”
Di desa, logika sederhana ini cukup untuk menjelaskan kompleksitas global. Mereka tak perlu kuliah hubungan internasional untuk memahami bahwa dunia saling terhubung. Harga beras, harga pupuk, harga BBM—semua adalah utas-utas kecil yang menjerat desa ke pusaran dunia.
Ketika Solidaritas Tak Cukup: Pelajaran dari Warung Kopi
Pembicaraan di warung kopi bergeser ke soal Palestina. Seorang kakek bercerita tentang perang kemerdekaan dulu, tentang bagaimana desa mereka juga pernah dibakar, tentang bagaimana dulu mereka juga berjuang melawan penjajah.
“Sekarang Palestina dijajah Israel. Kita dulu juga dijajah Belanda. Rasanya sama: sakit, menderita, kehilangan,” katanya pelan.
“Tapi kita menang, Pak. Kita merdeka.”
“Iya, karena kita berjuang, dan dunia membantu. Tapi sekarang, Palestina sudah berjuang bertahun-tahun, kok belum merdeka juga?”
Seorang pemuda menjawab, “Kata dosen saya, Pak, dunia sekarang beda. Yang kuasa cuma negara-negara besar. Mereka punya hak veto di PBB. Mereka jualan senjata. Mereka yang menentukan.”
“Berarti, Palestina butuh senjata juga dong?”
“Bukan senjata, Pak. Tapi butuh negara besar yang membela mereka. Tapi negara besar pada sibuk urusannya sendiri. Amerika sibuk dengan Trump-nya, Eropa sibuk dengan nuklirnya, Rusia sibuk perang sama Ukraina. Palestina sendiri.”
Kakek itu menghela napas panjang. “Kasihan. Nasib rakyat kecil di mana-mana sama: jadi korban permainan orang-orang besar.”
Di sinilah titik temunya. Petani di desa dan warga Gaza punya nasib serupa: mereka adalah bagian terkecil dari puzzle besar bernama politik global. Keputusan di Munich, Washington, atau Moskow—pada akhirnya—sampai juga ke sawah dan tenda pengungsian.
Bahasa Kekuasaan yang Tak Sampai ke Desa
Friedrich Merz, di Munich, berbicara tentang “keunggulan kompetitif” NATO. Ia menerjemahkan aliansi militer ke dalam bahasa ekonomi, agar didengar oleh pemerintahan Trump yang transaksional. Para aktivis Palestina di kota-kota besar juga mulai belajar “menerjemahkan” perjuangan mereka ke dalam bahasa keamanan dan kepentingan strategis, agar bisa mempengaruhi kebijakan negara-negara Barat.
Tapi di desa, bahasa ini asing.
Di desa, bahasa yang dipahami adalah bahasa perut, bahasa tanah, bahasa panen. Ketika seorang ibu di Gaza kehilangan anaknya, petani di desa mengerti itu. Ketika seorang petani di Jawa kehilangan sawahnya karena banjir, ibu di Gaza mungkin juga mengerti. Mereka berbicara dalam bahasa yang sama: bahasa penderitaan, bahasa perjuangan bertahan hidup.
Mungkin di sinilah letak kekuatan sesungguhnya. Jika para pemimpin dunia di Munich bicara tentang “nilai” dan “kepentingan”, maka rakyat di desa dan di pengungsian bicara tentang “nyawa”. Jika negara-negara besar menghitung untung-rugi aliansi, maka rakyat kecil menghitung berapa karung beras yang tersisa untuk minggu depan.
Mungkin, agar perubahan benar-benar terjadi, para penguasa perlu belajar bahasa yang sama dengan rakyat kecil: bahasa kemanusiaan yang sederhana, tanpa basa-basi, tanpa kepentingan.
Menjaga Api di Tengah Badai
Krisis di Munich dan bencana di Gaza, bagi masyarakat desa, adalah dua sisi dari koin yang sama: dunia sedang tidak baik-baik saja. Tatanan lama runtuh, kepercayaan hancur, dan yang paling menderita adalah mereka yang paling bawah.
Tapi di desa, ada kearifan yang mungkin bisa menjadi pelajaran: ketika dunia besar runtuh, yang kecil bertahan dengan gotong royong. Ketika negara-negara besar bertengkar, desa-desa saling berbagi beras. Ketika konferensi keamanan sibuk dengan nuklir, warung-warung kopi sibuk dengan diskusi tentang kebaikan tetangga.
Mungkin ini yang disebut “keamanan” dalam definisi yang sesungguhnya: bukan tentang bom dan tentara, tapi tentang rasa aman di kampung sendiri, tentang perut kenyang, tentang anak bisa sekolah, tentang tetangga yang peduli.
Di tengah dunia yang terbakar, masyarakat desa memandang dengan mata waspada. Mereka tak punya kekuatan untuk mengubah kebijakan global. Tapi mereka punya kekuatan untuk menjaga api kemanusiaan tetap menyala—dengan berbagi nasi, dengan menyisihkan receh untuk Palestina, dengan mendoakan keselamatan bagi semua yang menderita.
Dan mungkin, dari desa-desa kecil inilah, perubahan besar suatu hari akan dimulai. Bukan dari pidato di Munich, bukan dari resolusi PBB, tapi dari kesadaran sederhana: bahwa di atas semua perbedaan, kita semua adalah manusia yang ingin hidup damai.
Sebab pada akhirnya, baik di desa maupun di Gaza, yang dicari hanya satu: kedamaian untuk pulang ke rumah, dan kepastian bahwa esok masih ada.









