Di Indonesia, Hari Ibu sering diperingati dengan ungkapan cinta dan penghormatan. Namun di ruang desa, makna Hari Ibu tidak berhenti pada kata. Ia menjelma menjadi laku hidup. Menjadi kesabaran yang diulang setiap hari. Menjadi doa yang tidak selalu terdengar, tetapi menentukan arah sebuah keluarga—bahkan sebuah bangsa.
Di desa, ibu adalah penjaga pertama kehidupan. Ia yang paling awal bangun, paling akhir beristirahat, dan paling sering mengalah. Dari dapur sederhana, dari kebun kecil, dari lorong pasar tradisional, ibu-ibu desa memastikan kehidupan tetap berjalan meski keadaan tidak selalu berpihak.
Al-Qur’an mengingatkan bahwa manusia diperintahkan berbuat baik kepada orang tua, terutama ibu yang mengandung dalam kelemahan di atas kelemahan. Di desa, ayat itu bukan sekadar bacaan. Ia hidup dalam kenyataan.
Bundo Kanduang dan Ibu-Ibu Nusantara
Di Minangkabau, ibu dikenal sebagai Bundo Kanduang. Ia bukan hanya ibu biologis, tetapi ibu peradaban. Penjaga adat, pemilik pusaka, dan pengingat arah. Ia tidak memimpin dengan suara tinggi, tetapi dengan kebijaksanaan yang membuat konflik mereda dan keluarga tetap utuh. Dalam diamnya, ia menyelamatkan banyak hal.
Namun wajah ibu desa tidak hanya ada di Minangkabau.
Di Papua, kita mengenal Mama Papua. Ia memanggul hasil kebun, berdiri di pasar, dan menghidupi keluarga dengan kerja keras yang sering luput dari perhatian. Dari tangan merekalah ketahanan pangan lokal bertahan. Mereka mungkin tidak memahami istilah ekonomi makro, tetapi merekalah pelaku ekonomi paling nyata.
Di Aceh, sejarah mencatat Inong Balee—perempuan yang kehilangan, tetapi tidak menyerah. Dari luka, lahir kekuatan. Dari duka, tumbuh keteguhan menjaga kampung dan martabat.
Di Jawa, ibu mungkin tak memiliki gelar adat, tetapi ia adalah penjaga rukun. Ia meredam pertengkaran, mengajarkan unggah-ungguh, dan memastikan keluarga tidak tercerai oleh ego. Desa Jawa bertahan karena ibu-ibunya menanamkan kesabaran sebagai nilai hidup.
Di Bugis, ibu menjaga siri’—harga diri keluarga. Ia mengajarkan bahwa kehormatan bukan soal gengsi, melainkan tanggung jawab moral. Ketika nilai itu goyah, ibulah yang pertama menegakkan kembali.
Di Bali, ibu-ibu banjar menjaga kesinambungan adat dan spiritualitas. Mereka memastikan keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan tetap terpelihara. Tanpa peran mereka, ritual kehilangan makna, dan desa kehilangan jiwa.
Di Kalimantan, ibu Dayak mengajarkan anak membaca alam—mana yang boleh diambil, mana yang harus dijaga. Dari mereka, desa belajar bahwa hidup bukan tentang menguasai, tetapi merawat.
Di Nusa Tenggara Timur, ibu mengelola pangan dengan perhitungan sunyi, menghadapi musim kering dengan ketabahan. Mereka tidak bicara tentang ketahanan nasional, tetapi mempraktikkannya setiap hari.
Berbeda nama, satu peran: penjaga kehidupan.
Kerja Sunyi yang Menyangga Bangsa
Ironisnya, kerja besar ini sering tidak tercatat dalam laporan pembangunan. Ibu desa kerap diposisikan sebagai objek program, bukan subjek kebijakan. Padahal, banyak keberhasilan desa bertumpu pada ketahanan yang dibangun ibu-ibunya—ketahanan iman, pangan, dan sosial.
Hari Ibu seharusnya menjadi momen muhasabah nasional. Apakah kita sudah memuliakan ibu desa tidak hanya dalam pidato, tetapi dalam kebijakan? Apakah pembangunan benar-benar berpihak pada mereka yang selama ini menjaga kehidupan dari lapisan paling dasar?
Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang kuat ekonominya, tetapi bangsa yang menghormati kerja sunyi warganya.
Menjaga Akar, Menjaga Masa Depan
Ibu-ibu desa mungkin tidak menulis undang-undang. Mereka tidak tampil di panggung kekuasaan. Tetapi dari doa-doa merekalah lahir generasi yang jujur, sabar, dan tangguh. Dari tangan merekalah desa bertahan menghadapi perubahan zaman.
Jika hari ini Indonesia masih berdiri, salah satu alasannya adalah karena ibu-ibu desa tidak pernah berhenti menjaga—meski jarang disebut.
Merayakan Hari Ibu sejatinya adalah mengingat kembali akar kita. Dan bangsa yang ingat pada akarnya, insya Allah, tidak akan mudah tumbang.










