Home / Cakrawala / Sosial Desa / Surat Terbuka dari Relawan Kemanusiaan Panglima Desa untuk BNPB, Pemerintah, dan Seluruh Masyarakat Indonesia

Surat Terbuka dari Relawan Kemanusiaan Panglima Desa untuk BNPB, Pemerintah, dan Seluruh Masyarakat Indonesia

Kami, para Relawan kemanusiaan Panglima Desa yang berada di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, menulis surat ini dengan hati yang berat. Hari-hari terakhir ini adalah hari yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya. Banjir bandang dan longsor yang melanda Sumatra telah menghancurkan begitu banyak kehidupan. Berdasarkan laporan resmi BNPB, jumlah korban meninggal kini telah mencapai 964 jiwa, dengan sekitar 262 orang masih hilang dan lebih dari 5.000 warga mengalami luka-luka. Sementara itu, jumlah pengungsi telah melampaui 1 juta jiwa — angka yang tidak pernah terjadi sebelumnya dalam satu rangkaian bencana serupa di Sumatra. Kami menyaksikan langsung bagaimana setiap angka itu mewakili wajah, keluarga, dan cerita yang terputus.

Di Aceh — provinsi dengan korban terbanyak — kerusakan terlihat di mana-mana. Ratusan jembatan dan fasilitas umum hancur; listrik sempat putus selama berhari-hari; banyak desa terisolasi total karena akses jalan hilang tersapu banjir dan tanah longsor. Kami berada di beberapa titik evakuasi saat hujan masih turun deras, dan kami melihat bagaimana tim BNPB, BPBD, TNI, Polri, dan warga sekitar berjuang mendekati wilayah yang tidak bisa ditembus kendaraan. Bahkan bantuan medis pun harus dikirim dengan airdrop karena jalur darat lumpuh sepenuhnya. Pada saat gelap total, tanpa listrik dan tanpa sinyal, kami mendengar warga menangis mencari keluarganya — dan di situlah kami sadar betapa besar luka yang sedang dihadapi Aceh, betapa panjang jalan pemulihannya.

Situasi di Sumatera Utara pun tidak jauh berbeda. Di kabupaten-kabupaten seperti Sibolga, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan, banjir dan longsor menerjang begitu cepat. Laporan terbaru menyebut bahwa sekitar 309–329 jiwa meninggal dunia di Sumut, sementara puluhan hingga ratusan orang masih hilang. Ada delapan kecamatan yang hingga kini masih terisolasi, dan beberapa jembatan penghubung utama runtuh tak bersisa. Banyak rumah hanyut, fasilitas kesehatan rusak, dan beberapa desa tidak dapat dijangkau sama sekali. Pemerintah provinsi telah menetapkan status darurat bencana sejak akhir November hingga 10 Desember 2025 untuk mempercepat respons, dan kami menyaksikan sendiri bagaimana tim BNPB dan relawan bekerja tanpa henti mengangkut logistik, mengevakuasi korban, dan memperbaiki akses dengan segala keterbatasan.

Sumatera Barat juga mengalami kerusakan berat. Pemerintah memperpanjang masa tanggap darurat hingga 22 Desember 2025, karena akses di banyak daerah seperti Agam, Solok, dan Tanah Datar masih belum pulih. Jalan-jalan besar terputus dan jembatan hanyut, sementara sebagian wilayah masih sulit diakses kendaraan berat. BNPB telah menurunkan alat berat di banyak titik untuk membuka jalur dan membangun jembatan darurat. Dalam periode 28 November hingga 3 Desember saja, 18 ton bantuan telah dikirim melalui darat dan udara ke wilayah-wilayah terisolasi. Kami berada di sana ketika helikopter menurunkan kantong-kantong pangan, air minum, obat, dan sandang — bantuan itu langsung diserbu warga yang sudah berhari-hari hidup tanpa suplai stabil. Meski listrik telah pulih di 19 kabupaten/kota per 5 Desember, pemulihan jalan, rumah, dan fasilitas sosial masih jauh dari selesai. Bahkan sektor pertanian seluas 25.000 hektar mengalami kerusakan berat, mengancam ketahanan pangan di banyak daerah.

Secara nasional, pemerintah mempercepat pendistribusian bantuan untuk Aceh, Sumut, dan Sumbar. Akses udara dimaksimalkan, jembatan Bailey dipasang, unit penyaring air digerakkan, dan pos pemulihan listrik diprioritaskan. Presiden juga memerintahkan pemulihan jalur darat paling lambat akhir pekan ini untuk wilayah terdampak. Upaya relokasi dan pembangunan hunian sementara mulai direncanakan, sementara pemerintah memperkirakan total biaya pemulihan Sumatra akan mencapai Rp 51,82 triliun. Namun bagi kami di lapangan, angka hanya mencerminkan sebagian kecil dari kerusakan nyata: rumah-rumah yang rata dengan tanah, sekolah yang tak lagi memiliki atap, puskesmas yang hancur, pasar-pasar yang dipenuhi lumpur, dan warga yang kehilangan seluruh kehidupannya dalam satu malam.

Di pos-pos pengungsian, tantangan juga sangat berat. Banyak fasilitas kesehatan rusak, peralatan terbatas, dan tenaga medis kewalahan menghadapi ribuan pengungsi yang rentan penyakit, kurang gizi, dan trauma berat. Sanitasi buruk, air bersih langka, dan hujan yang terus turun menciptakan ketakutan akan banjir susulan. Kami melihat para ibu yang memeluk anak-anak mereka yang menggigil, para lansia yang terbaring tanpa obat, dan para remaja yang kehilangan seluruh keluarga mereka. Banyak warga tidur hanya dengan beralaskan tikar tipis, sementara suara hujan di luar membuat mereka teringat kembali malam ketika banjir dan longsor datang.

Kami, para Relawan kemanusiaan Panglima Desa, menulis surat terbuka ini sebagai tanda hormat bagi mereka yang bekerja tanpa pamrih. Untuk BNPB dan BPBD, terima kasih karena memimpin setiap operasi dengan ketegasan dan keberanian. Untuk tenaga medis, terima kasih karena tetap memberikan harapan di tengah keterbatasan. Untuk TNI dan Polri, terima kasih telah membuka jalan dan mengangkat korban yang tidak bisa diselamatkan dengan cara lain. Untuk masyarakat lokal dan relawan dari berbagai komunitas, kami melihat pengorbanan kalian — ada yang memasak secara bergiliran, yang menyeberang sungai demi membawa beras, yang memberi tumpangan bagi pengungsi, dan yang bekerja tanpa tidur hanya untuk memastikan satu nyawa lagi bisa selamat.

Namun kami juga menulis ini sebagai pengingat bahwa perjalanan belum selesai. Banyak wilayah masih terisolasi, cuaca masih tidak menentu, dan ancaman longsor serta banjir susulan tetap nyata. Pemulihan jangka panjang — rumah, jembatan, fasilitas kesehatan, sekolah, lahan pertanian — membutuhkan komitmen bersama dan waktu yang panjang. Kami mengajak semua pihak untuk terus membuka hati dan tangan, karena warga Sumatra tidak boleh dibiarkan menghadapi ini sendirian.

Dari lokasi-lokasi yang penuh lumpur, dari posko-posko pengungsian yang sesak, dan dari desa-desa yang masih gelap tanpa listrik, kami mengirimkan suara ini kepada seluruh Indonesia: jangan lupakan mereka yang sedang berjuang untuk bangkit.

Hormat kami,
Relawan kemanusiaan Panglima Desa di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *