Rasa cemas terus menggelayuti warga lereng Gunung Semeru. Di Desa Sumber Wuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, aktivitas vulkanik kembali meningkat dalam beberapa hari terakhir. Awan panas guguran, aliran lahar, dan kepulan asap yang terlihat jelas dari kaki gunung membuat warga kembali hidup dalam mode siaga.
Hanafi (45), salah satu warga, menggambarkan situasinya dengan lugas. Setiap kepulan asap yang muncul dari sisi selatan Semeru menjadi sinyal bahaya yang tak boleh disepelekan.
“Jam tiga sore itu sudah ramai awan panasnya. Ada peringatan dari grup WhatsApp, kami langsung panik dan keluar rumah cari tempat aman. Yang paling kami takutkan itu kalau malam… lahar dingin atau APG itu tidak ada bunyinya, tapi meluncur sangat cepat,” ujarnya.
Bagi warga Sumber Wuluh, setiap peringatan bahaya bukan sekadar informasi—itu perintah evakuasi. Mereka bergerak cepat menuju balai desa, rumah saudara, atau titik aman lain yang lebih tinggi. Tas darurat sudah disiapkan: dokumen penting, pakaian, dan selimut. “Supaya kalau harus keluar cepat, tinggal angkat,” kata Hanafi.
Namun situasi darurat ini membebani lebih dari sekadar mental. Warga yang bekerja di sektor pertambangan manual dan alat berat kini kehilangan pendapatan harian. Aktivitas tambang terhenti total. “Ini sudah hari ketiga kami tidak bekerja. Pendapatan berhenti total, sementara kebutuhan makan tetap ada,” ungkapnya.
Di sektor infrastruktur, dampak erupsi juga terasa keras. Di Supit Urang, Kecamatan Pronojiwo, tiang listrik roboh, kabel terputus, dan satu trafo yang melayani lebih dari seratus pelanggan rusak diterjang awan panas. Ratusan rumah kembali gelap.
Meski begitu, warga tetap menuntut keadilan dan perhatian. Tak semua mendapatkan hunian tetap, meski tinggal dalam radius rawan yang sama. Hanafi berharap pemerintah daerah memperkuat sarana pengungsian dan menyiapkan solusi ekonomi yang lebih tangguh selama masa tanggap darurat.
“Kami butuh tempat pengungsian yang lebih permanen dan fasilitas yang lebih lengkap. Supaya kalau harus mengungsi, tidak terlalu kesusahan,” tegasnya.
Optimisme di Tengah Bencana: Pelajaran dari Lereng Merapi
Meski Semeru kembali menggeliat, cerita dari lereng gunung api lain—seperti Merapi—menawarkan sesuatu yang layak digenggam: optimisme dalam ketangguhan manusia.
Warga Kaliurang dan Cangkringan pernah mengalami situasi yang tak kalah berat. Setiap letusan Merapi, sejak generasi Mbah Maridjan hingga kini, menorehkan rasa takut yang sama namun juga menumbuhkan kearifan kolektif: bahwa hidup di dekat gunung api adalah tentang adaptasi, bukan sekadar menunggu keajaiban.
Bedanya, warga Merapi membuktikan bahwa tragedi bukan akhir. Dari tanah yang hangus, mereka bangkit dan “memperbaiki hidup” dengan lebih terstruktur:
1. Desa Wisata dan Ekonomi Baru
Pasca letusan 2010, banyak warga kehilangan rumah dan pekerjaan. Tapi tidak lama kemudian, kawasan itu justru berubah menjadi pusat wisata edukasi bencana, lava tour, pusat UMKM, dan museum vulkanologi populer. Pendapatan yang dulu stagnan kini mengalir dari wisatawan domestik dan mancanegara.
2. Hunian Tetap yang Lebih Tertata
Program relokasi Merapi memang tidak sempurna, tapi berhasil menciptakan kawasan pemukiman baru yang lebih aman, lengkap dengan fasilitas umum dan jalur evakuasi yang lebih jelas. Kehidupan kembali bergerak.
3. Sistem Peringatan Dini yang Lebih Baik
Merapi mendorong perkembangan sistem early warning paling maju di Indonesia. Sirine otomatis, sensor seismik, jalur evakuasi permanen, hingga edukasi masyarakat menjadi standar baru dalam mitigasi bencana.
Hal-hal seperti ini adalah bukti bahwa lereng gunung api, betapa pun mengerikannya, tetap bisa menjadi tempat lahirnya peluang—asal ada keberanian warga dan kehadiran negara yang nyata.
Sumber Wuluh Bisa Mengulang Kisah Itu
Semeru mungkin tidak akan memberi jeda. Tapi itu tidak berarti harapan tertutup. Justru sekaranglah momentum untuk:
- Mempermanenkan titik pengungsian dengan desain tahan bencana dan fasilitas kesehatan memadai.
- Mendorong relokasi sukarela untuk warga yang tinggal pada zona merah paling rawan.
- Membangun skema ekonomi darurat, seperti padat karya, insentif UMKM, dan pengganti pendapatan harian bagi pekerja tambang.
- Menyusun peta risiko bersama warga, sehingga semua orang tahu titik aman tanpa keraguan.
- Mengembangkan potensi geowisata Semeru di masa datang, belajar dari model Merapi.
Bencana mungkin merusak tanah, rumah, dan pekerjaan. Tapi ia tidak perlu mematahkan masa depan. Warga Sumber Wuluh sudah membuktikan satu hal penting: ketahanan mental mereka lebih kuat daripada gunung apa pun.
Semeru boleh menggeram, tetapi manusia tetap bisa berdiri dan membangun lagi—lebih siap, lebih tangguh, dan lebih bersatu.










